Fiat Justicia et Parereat Mundus

Fiat Justicia et Parereat Mundus
Do The Right Things, Come What May :)

Minggu, 01 Juli 2012


Disusun oleh :
PR13-1C
    1. Elisabeth Fransisca / 2009130942
    2. Samantha Christia / 2009130296
    3. Samantha Clara / 2009130201
    4. Tham Novita / 2009130279


Berbagai kebobrokan yang kita alami, seperti: korupsi, pudarnya rasa kesetiakawanan sosial, pupusnya nasionalisme, kurangnya semangat kemandirian dan kepercayaan diri dalam kehidupan berbangsa saat ini, semua berasal dari kelemahan watak atau karakter seseorang. Sistem pendidikan nasionalpun tampaknya hanya sekadar pemenuhan kebutuhan pasar atas tenaga kerja misalnya berupa pemberian pengetahuan dan keterampilan teknis yang kurang diimbangi dengan pembangunan karakter seseorang.
Pembangunan watak atau karakter mencakup sikap mental manusia serta menuntut adanya perubahan sikap mental manusia. Selain merupakan sarana untuk mencapai tujuan-tujuan pembangunan, pembangunan watak atau karakter juga merupakan salah satu tujuan utama pembangunan itu sendiri.
Untuk kepentingan pembangunan karakter tersebut, banyak hal yang perlu dilakukan dalam berbagai sektor. Salah satu hal yang dapat membantu dalam pembangunan karakter ini adalah dengan menggunakan media massa, khususnya media televisi. Media massa merupakan jenis media yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat. Aspek media massa ini semakin penting, mengingat luasnya wilayah geografis Indonesia yang harus dijangkau, jumlah penduduk yang begitu besar, dan berbagai lapisan masyarakat yang perlu dilibatkan. Dengan daya jangkau yang relatif luas dan dalam waktu yang serentak, mampu memainkan peran dalam pembentukan watak dan karakter bangsa. Pada era informasi sekarang ini, institusi media massa seperti televisi dan surat kabar dipercaya memiliki kemampuan dalam menyelenggarakan produksi, reproduksi dan distribusi pengetahuan secara signifikan dalam peran sertanya untuk membangun karakter bangsa, khususnya bangsa Indonesia.
Pengertian Nilai-nilai dan Pembentukan Karakter
Secara sederhana, karakter dapat diartikan sebagai tabiat, perangai, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang yang lain. Maka, membangun karakter sebenarnya adalah proses mengukir atau menempa jiwa sedemikian rupa, sehingga berbentuk unik, menarik, dan berbeda atau dapat dibedakan dengan orang lain. Proses pembentukan karakter bermula dari pengenalan nilai-nilai secara kognitif, yang berlanjut dengan penghayatan nilai-nilai secara afektif, yang diharapkan berujung pada penerapan dan pengamalan nilai-nilai tersebut secara nyata dalam kehidupan. Sebelum terwujud pengamalan nyata, dalam diri manusia bersangkutan harus bangkit keinginan atau dorongan alamiah yang sangat kuat atau tekad, untuk mengamalkan nilai-nilai tersebut.
Persoalannya saat ini adalah adanya ”ketidaktuntasan” dalam sistem pendidikan yang menyangkut pembentukan karakter. Di sekolah diajarkan pelajaran agama, kewarnegaraan dan kewiraan yang dianggap sebagai bagian dari pendidikan karakter. Namun pendidikan karakter ini tampaknya lebih banyak pada aspek kognitif yang merupakan pengetahuan di permukaan sehingga kurang masuk lebih dalam ke tahap penghayatan apalagi ke tahap pengamalan. Selain itu pembentukan karakter bukan hanya terjadi di sekolah melalui interaksi antara murid dan guru, tetapi pembentukan karakter juga terjadi di rumah melalui interaksi dengan orangtua, saudara, kerabat, dan lingkungan sekitar, serta melalui media massa.
Kondisi Media Massa di Indonesia
Media massa di Indonesia pernah mengalami masa pelarangan kebebasan pers yang panjang di zaman Orde Baru. Ancaman pemberedelan atau pencabutan izin penerbitan selalu menghantui pengelola media cetak. Sebaliknya, media massa saat ini justru menikmati kebebasan yang luar biasa, yang belum pernah dialami sebelumnya. Dengan adanya kebebasan pers yang dinikmati sekarang ini, media massa dapat memanfaatkan anugerah kebebasan yang sudah ada itu dengan sebaik-baiknya, untuk mendukung upaya pembentukan karakter bangsa. Hal ini menjadi salah satu “misi” penting media massa sekarang.
Namun yang menjadi hambatan utama untuk menjalankan misi tersebut adalah faktor internal dari institusi media massa itu sendiri. Hal ini khususnya terjadi di media televisi milik swasta. Ada suatu fenomena yang dinamakan market – driven journalism, atau jurnalisme yang didorong atau digerakkan oleh pasar. Jadi, jantung dari jurnalisme pasar (market journalism) adalah logika pasar. Dalam situasi semacam ini, praktik pemberitaan di media bukan lagi semata-mata diwarnai oleh idealisme dan nilai-nilai luhur para pengelola dan pemilik media, tetapi lebih ditentukan oleh berita apa yang disukai pasar sehingga berita tersebut “bisa dijual” di pasar. Hal ini tidak jarang telah mendorong media massa untuk melakukan pelanggaran etika jurnalisme, atau melakukan cara yang tidak etis dalam pemberitaan. Selain itu, banyak program yang tidak bersifat mendidik, dan tidak mendukung ke arah pembentukan karakter yang positif.
Regulasi Diperlukan
Agar peran pembentukan karakter bangsa itu dapat diwujudkan secara optimal, perlu adanya aturan atau regulasi bagi media massa. Peran penting dalam pembentukan karakter tidak boleh dipasrahkan atau diserahkan mentah-mentah kepada kemurahan hati pemilik media semata-mata, karena “hukum dan logika pasar” akan tetap mendominasi. Sebagai konsekuensi buruknya, peran pembentukan karakter bangsa tidak akan dijadikan prioritas selama dianggap tidak memberi imbalan profit yang nyata bagi pemilik media.
Maka dari itu, diperlukan Rancangan Undang-Undang Penyiaran untuk mengontrol media massa. Dengan adanya UU Penyiaran ini, diharapkan dapat memberi masukan dan dorongan yang dapat mendukung ke arah terwujudnya peran pembentukan karakter bangsa. Namun ada beberapa aspek yang perlu dicermati. Dalam kaitan kepentingan kita untuk membentuk karakter bangsa yang positif, regulasi konten menjadi prioritas. Setiap media wajib menyediakan konten yang mendukung ke arah pembentukan karakter bangsa yang positif. Aspek lainnya menyangkut telekomunikasi karena perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi kini telah membuat aspek ini semakin rumit. Pada era informasi sekarang ini, siaran televisi juga disampaikan melalui jejaring komunikasi dan internet sehingga hal ini juga akan menyangkut porsi kepemilikan, netralitas pemilik media, perizinan, ketentuan periklanan, akses jejaring, dan lain-lain.
Fungsi & Peran Media Massa Semestinya
Media massa merupakan salah satu saluran komunikasi yang banyak memberikan informasi pada masyarakat. Berkat perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi, Televisi saat ini dapat menjangkau khalayak yang luas dalam waktu hampir bersamaan. Televisi bukan lagi sebatas media untuk menonton, melainkan telah menjadi alat berkomunikasi yang bersifat interaktif dan menghibur. Secara umum, ada tiga fungsi media massa, yaitu: pertama, memberi informasi. Kedua, mendidik. Ketiga, menghibur dan keempat adalah sebagai kontrol sosial. Fungsi kontrol sosial adalah untuk mengkritisi kebijakan pemerintah, misalnya: kekerasan dalam masyarakat.
Sayangnya, keempat fungsi media massa tersebut sudah banyak yang bergeser dan tidak ideal lagi. Pada zaman sekarang ini, televisi lebih banyak menghibur dan tidak memikirkan segi pendidikan lagi. Sebagai alat komunikasi murah, sudah pasti televisi menjadi acuan masyarakat untuk mendapatkan informasi dan pendidikan. Namun banyak program-program televisi sekarang ini, tidak jelas dan tidak mendidik yang justru ratingnya tinggi. Dengan kondisi pertelevisian yang seperti ini, akan menghambat pembentukan karakter bangsa.
Untuk itu diperlukan kebijakan redaksional agar program-program yang ditayangkan dapat bersifat “mendidik” sehingga mereka tidak menayangkan program seenaknya tanpa mengindahkan kepentingan publik dan tidak mendidik bangsa. Karena hal ini menyangkut kepentingan dalam pembentukan karakter bangsa, sudah sepatutnya televisi menayangkan program-program yang mencerdaskan bangsa.
Beberapa Pendekatan yang Dapat Dilakukan Media
Menurut Straubhaar & LaRose (2002), ada beberapa cara pendekatan yang dapat dilakukan media dalam mendukung peran media untuk membangun karakter, khususnya bagi media cetak dan elektronik :
1.      Agenda Setting
Agenda setting adalah kemampuan media untuk memilih dan menetapkan isu-isu atau berita apa yang dianggap penting, yang harus diperhatikan publik atau yang harus segera ditangani oleh pemerintah. Isu yang dianggap penting itu dapat diberi porsi yang lebih besar dan penempatan yang menarik untuk mendapatkan perhatian khalayak.
2.      Gatekeeping
Gatekeeping adalah teori yang menekankan peran krusial dari para penjaga gerbang (gatekeepers), yakni para eksekutif media yang dapat membuka atau menutup gerbang terhadap pesan – pesan yang akan disampaikan media.
Merekalah yang menentukan pesan atau konten apa yang akan dimuat atau ditayangkan di media dan pesan mana pula yang tidak dimuat atau ditayangkan media.

3. Framing
Framing adalah para jurnalis yang memutuskan bagaimana suatu berita atau peristiwa itu dibingkai dengan cara tertentu, yakni ada unsur yang dimasukkan di dalam kerangka (frame) sebuah berita dan ada juga yang dikeluarkan dari kerangka tersebut.
            Dengan adanya ketiga pendekatan ini, semoga Media Massa di Indonesia dapat dengan bijaksana menayangkan program – program televisi sehingga pertelevisian Indonesia menjadi bermutu dan tercipta karakter pribadi yang positif bagi bangsa.

Berikut video mengenai peranan media dalam pembentukkan karakter bangsa ;

Sumber : http://www.youtube.com/watch?v=Qv4_YMl9k0w



Daftar Pustaka
http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2012/03/peran-media-massa-dalam-pembentukan.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar