Fiat Justicia et Parereat Mundus

Fiat Justicia et Parereat Mundus
Do The Right Things, Come What May :)

Minggu, 01 Juli 2012


Disusun oleh :
PR13-1C
    1. Elisabeth Fransisca / 2009130942
    2. Samantha Christia / 2009130296
    3. Samantha Clara / 2009130201
    4. Tham Novita / 2009130279


Berbagai kebobrokan yang kita alami, seperti: korupsi, pudarnya rasa kesetiakawanan sosial, pupusnya nasionalisme, kurangnya semangat kemandirian dan kepercayaan diri dalam kehidupan berbangsa saat ini, semua berasal dari kelemahan watak atau karakter seseorang. Sistem pendidikan nasionalpun tampaknya hanya sekadar pemenuhan kebutuhan pasar atas tenaga kerja misalnya berupa pemberian pengetahuan dan keterampilan teknis yang kurang diimbangi dengan pembangunan karakter seseorang.
Pembangunan watak atau karakter mencakup sikap mental manusia serta menuntut adanya perubahan sikap mental manusia. Selain merupakan sarana untuk mencapai tujuan-tujuan pembangunan, pembangunan watak atau karakter juga merupakan salah satu tujuan utama pembangunan itu sendiri.
Untuk kepentingan pembangunan karakter tersebut, banyak hal yang perlu dilakukan dalam berbagai sektor. Salah satu hal yang dapat membantu dalam pembangunan karakter ini adalah dengan menggunakan media massa, khususnya media televisi. Media massa merupakan jenis media yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat. Aspek media massa ini semakin penting, mengingat luasnya wilayah geografis Indonesia yang harus dijangkau, jumlah penduduk yang begitu besar, dan berbagai lapisan masyarakat yang perlu dilibatkan. Dengan daya jangkau yang relatif luas dan dalam waktu yang serentak, mampu memainkan peran dalam pembentukan watak dan karakter bangsa. Pada era informasi sekarang ini, institusi media massa seperti televisi dan surat kabar dipercaya memiliki kemampuan dalam menyelenggarakan produksi, reproduksi dan distribusi pengetahuan secara signifikan dalam peran sertanya untuk membangun karakter bangsa, khususnya bangsa Indonesia.
Pengertian Nilai-nilai dan Pembentukan Karakter
Secara sederhana, karakter dapat diartikan sebagai tabiat, perangai, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang yang lain. Maka, membangun karakter sebenarnya adalah proses mengukir atau menempa jiwa sedemikian rupa, sehingga berbentuk unik, menarik, dan berbeda atau dapat dibedakan dengan orang lain. Proses pembentukan karakter bermula dari pengenalan nilai-nilai secara kognitif, yang berlanjut dengan penghayatan nilai-nilai secara afektif, yang diharapkan berujung pada penerapan dan pengamalan nilai-nilai tersebut secara nyata dalam kehidupan. Sebelum terwujud pengamalan nyata, dalam diri manusia bersangkutan harus bangkit keinginan atau dorongan alamiah yang sangat kuat atau tekad, untuk mengamalkan nilai-nilai tersebut.
Persoalannya saat ini adalah adanya ”ketidaktuntasan” dalam sistem pendidikan yang menyangkut pembentukan karakter. Di sekolah diajarkan pelajaran agama, kewarnegaraan dan kewiraan yang dianggap sebagai bagian dari pendidikan karakter. Namun pendidikan karakter ini tampaknya lebih banyak pada aspek kognitif yang merupakan pengetahuan di permukaan sehingga kurang masuk lebih dalam ke tahap penghayatan apalagi ke tahap pengamalan. Selain itu pembentukan karakter bukan hanya terjadi di sekolah melalui interaksi antara murid dan guru, tetapi pembentukan karakter juga terjadi di rumah melalui interaksi dengan orangtua, saudara, kerabat, dan lingkungan sekitar, serta melalui media massa.
Kondisi Media Massa di Indonesia
Media massa di Indonesia pernah mengalami masa pelarangan kebebasan pers yang panjang di zaman Orde Baru. Ancaman pemberedelan atau pencabutan izin penerbitan selalu menghantui pengelola media cetak. Sebaliknya, media massa saat ini justru menikmati kebebasan yang luar biasa, yang belum pernah dialami sebelumnya. Dengan adanya kebebasan pers yang dinikmati sekarang ini, media massa dapat memanfaatkan anugerah kebebasan yang sudah ada itu dengan sebaik-baiknya, untuk mendukung upaya pembentukan karakter bangsa. Hal ini menjadi salah satu “misi” penting media massa sekarang.
Namun yang menjadi hambatan utama untuk menjalankan misi tersebut adalah faktor internal dari institusi media massa itu sendiri. Hal ini khususnya terjadi di media televisi milik swasta. Ada suatu fenomena yang dinamakan market – driven journalism, atau jurnalisme yang didorong atau digerakkan oleh pasar. Jadi, jantung dari jurnalisme pasar (market journalism) adalah logika pasar. Dalam situasi semacam ini, praktik pemberitaan di media bukan lagi semata-mata diwarnai oleh idealisme dan nilai-nilai luhur para pengelola dan pemilik media, tetapi lebih ditentukan oleh berita apa yang disukai pasar sehingga berita tersebut “bisa dijual” di pasar. Hal ini tidak jarang telah mendorong media massa untuk melakukan pelanggaran etika jurnalisme, atau melakukan cara yang tidak etis dalam pemberitaan. Selain itu, banyak program yang tidak bersifat mendidik, dan tidak mendukung ke arah pembentukan karakter yang positif.
Regulasi Diperlukan
Agar peran pembentukan karakter bangsa itu dapat diwujudkan secara optimal, perlu adanya aturan atau regulasi bagi media massa. Peran penting dalam pembentukan karakter tidak boleh dipasrahkan atau diserahkan mentah-mentah kepada kemurahan hati pemilik media semata-mata, karena “hukum dan logika pasar” akan tetap mendominasi. Sebagai konsekuensi buruknya, peran pembentukan karakter bangsa tidak akan dijadikan prioritas selama dianggap tidak memberi imbalan profit yang nyata bagi pemilik media.
Maka dari itu, diperlukan Rancangan Undang-Undang Penyiaran untuk mengontrol media massa. Dengan adanya UU Penyiaran ini, diharapkan dapat memberi masukan dan dorongan yang dapat mendukung ke arah terwujudnya peran pembentukan karakter bangsa. Namun ada beberapa aspek yang perlu dicermati. Dalam kaitan kepentingan kita untuk membentuk karakter bangsa yang positif, regulasi konten menjadi prioritas. Setiap media wajib menyediakan konten yang mendukung ke arah pembentukan karakter bangsa yang positif. Aspek lainnya menyangkut telekomunikasi karena perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi kini telah membuat aspek ini semakin rumit. Pada era informasi sekarang ini, siaran televisi juga disampaikan melalui jejaring komunikasi dan internet sehingga hal ini juga akan menyangkut porsi kepemilikan, netralitas pemilik media, perizinan, ketentuan periklanan, akses jejaring, dan lain-lain.
Fungsi & Peran Media Massa Semestinya
Media massa merupakan salah satu saluran komunikasi yang banyak memberikan informasi pada masyarakat. Berkat perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi, Televisi saat ini dapat menjangkau khalayak yang luas dalam waktu hampir bersamaan. Televisi bukan lagi sebatas media untuk menonton, melainkan telah menjadi alat berkomunikasi yang bersifat interaktif dan menghibur. Secara umum, ada tiga fungsi media massa, yaitu: pertama, memberi informasi. Kedua, mendidik. Ketiga, menghibur dan keempat adalah sebagai kontrol sosial. Fungsi kontrol sosial adalah untuk mengkritisi kebijakan pemerintah, misalnya: kekerasan dalam masyarakat.
Sayangnya, keempat fungsi media massa tersebut sudah banyak yang bergeser dan tidak ideal lagi. Pada zaman sekarang ini, televisi lebih banyak menghibur dan tidak memikirkan segi pendidikan lagi. Sebagai alat komunikasi murah, sudah pasti televisi menjadi acuan masyarakat untuk mendapatkan informasi dan pendidikan. Namun banyak program-program televisi sekarang ini, tidak jelas dan tidak mendidik yang justru ratingnya tinggi. Dengan kondisi pertelevisian yang seperti ini, akan menghambat pembentukan karakter bangsa.
Untuk itu diperlukan kebijakan redaksional agar program-program yang ditayangkan dapat bersifat “mendidik” sehingga mereka tidak menayangkan program seenaknya tanpa mengindahkan kepentingan publik dan tidak mendidik bangsa. Karena hal ini menyangkut kepentingan dalam pembentukan karakter bangsa, sudah sepatutnya televisi menayangkan program-program yang mencerdaskan bangsa.
Beberapa Pendekatan yang Dapat Dilakukan Media
Menurut Straubhaar & LaRose (2002), ada beberapa cara pendekatan yang dapat dilakukan media dalam mendukung peran media untuk membangun karakter, khususnya bagi media cetak dan elektronik :
1.      Agenda Setting
Agenda setting adalah kemampuan media untuk memilih dan menetapkan isu-isu atau berita apa yang dianggap penting, yang harus diperhatikan publik atau yang harus segera ditangani oleh pemerintah. Isu yang dianggap penting itu dapat diberi porsi yang lebih besar dan penempatan yang menarik untuk mendapatkan perhatian khalayak.
2.      Gatekeeping
Gatekeeping adalah teori yang menekankan peran krusial dari para penjaga gerbang (gatekeepers), yakni para eksekutif media yang dapat membuka atau menutup gerbang terhadap pesan – pesan yang akan disampaikan media.
Merekalah yang menentukan pesan atau konten apa yang akan dimuat atau ditayangkan di media dan pesan mana pula yang tidak dimuat atau ditayangkan media.

3. Framing
Framing adalah para jurnalis yang memutuskan bagaimana suatu berita atau peristiwa itu dibingkai dengan cara tertentu, yakni ada unsur yang dimasukkan di dalam kerangka (frame) sebuah berita dan ada juga yang dikeluarkan dari kerangka tersebut.
            Dengan adanya ketiga pendekatan ini, semoga Media Massa di Indonesia dapat dengan bijaksana menayangkan program – program televisi sehingga pertelevisian Indonesia menjadi bermutu dan tercipta karakter pribadi yang positif bagi bangsa.

Berikut video mengenai peranan media dalam pembentukkan karakter bangsa ;

Sumber : http://www.youtube.com/watch?v=Qv4_YMl9k0w



Daftar Pustaka
http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2012/03/peran-media-massa-dalam-pembentukan.html

Selasa, 08 Maret 2011

Cinta and Bus

“Mengapa sampai sekarang belum juga datang Cinta sejati itu dalam kehidupanku….? Pujaan hati yang mengasihi dan mencintai diriku, dan yang juga kupuja dan kucintai….?”

Saudaraku terkasih,
Mungkin, pertanyaan inilah yang saat ini tengah menyergap kesunyian di hati…. Mengapa cinta itu belum juga kunjung datang. Seseorang istimewa yang akan menyemarakkan kehidupan Andai dengan tawa rianya, dengan perhatian dan kasih sayangnya.

Pujaan hati yang akan bersama-sama menyusuri kehidupan ini dalam suka maupun duka, dalam saat berlimpah maupun kekurangan, yang akan mengasuh dan membesarkan anak-anak titipan Sang Ilahi dengan cinta kasih.

Mungkin saat ini kerinduan itu melanda batinmu. Rindu akan kehadiran seseorang yang mampu membuat diri begitu bahagia meskipun ditengah kesakitan, seseorang yang mampu membuat jantung berdebaran tidak menentu hanya karena melihat sosoknya melintas dihadapanmu, sosok yang mampu membuatmu salah tingkah karena senyum atau sekedar sapaan lembutnya. Tetapi oh…… mengapa sampai sekarang dia tidak juga kunjung datang…..?

Saudaraku terkasih,
Apakah memang benar cinta sejati itu tak pernah datang….? Atau cinta itu sebenarnya telah datang, tetapi hanya saja Anda yang mengabaikannya?

Ayolah….. jangan terlalu lama terlena untuk menunggu dan menunda akan datangnya cinta sejati itu…..

Saudaraku terkasih,
Tahukah Anda, cinta adalah seperti seseorang yang menunggu bus.
Ketika bus datang, Anda melihat dan berkata kepada diri sendiri, “Ah…. Busnya begitu penuh. Aku akan menanti bus berikutnya…!!”

Dan ketika bus kedua datang, Anda melihatnya dan Anda berkata, “Aduh ... bus ini sangat tua ..., tentu sangat tidak nyaman."

Jadi Anda membiarkan bus pergi dan lagi, memutuskan untuk menunggu bus berikutnya.

Setelah beberapa saat bus lain datang, itu tidak penuh, tidak tua, tapi Anda bilang, “Busnya tidak ada AC-nya, padahal cuaca sangat panas. Ah…. Aku akan menunggu bus yang ber AC sejuk…”.

Jadi sekali lagi Anda membiarkan bus pergi dan memutuskan untuk menunggu bus berikutnya.
Dan saat bus AC datang, lagi-lagi Anda menunda untuk naik, karena ragu apakah AC dalam bus itu dalam keadaan berfungsi baik, atau malah terlalu dingin.

Kemudian langit mulai gelap karena semakin larut.
Anda panik dan melompat ke bus berikutnya yang datang. Namun Anda kemudian menyadari bahwa Anda telah naik ke bus yang salah!

Jadi, Anda membuang-buang waktu dan uang Anda, saat menunggu dan kemudian secara terburu-buru karena kepanikan naik ke bus yang salah!

Apakah Anda kemudian menyadari kesalahan itu, yang akan menyeret Anda ketempat asing yang membuat Anda frustasi…? Atau Anda akan berhenti dan menunggu bus yang benar sesuai tujuan Anda, meskipun hari telah semakin larut….?

Saudaraku terkasih,
Dalam kehidupan ini Anda pasti mempunyai impian, seseorang yang ideal untuk menjadi pendamping Anda. Dan impian mendapatkan apa yang Anda inginkan ini sama sekali tidak salah.

Tapi tidak ada salahnya juga untuk memberikan orang lain kesempatan untuk lebih mengenal Anda.

Mungkin dia tidak se ideal impian Anda, dan Anda sama sekali tidak tertarik padanya pada pandangan pertama. Dia sama sekali tidak menggetarkan hati Anda saat Anda menatap atau berpapasan dengannya. Anda sama sekali tidak merindukannya.

Tapi tak ada salahnya Anda mencoba untuk mengenalnya lebih jauh.
Pernah dengar “Tresno jalani kulino…?” Cinta datang karena kebiasaan...?

Siapa tahu ya…. Dengan berjalannya waktu, Anda menemui kecocokan…., sampai Anda akhirnya menyadari…. “Oh…. Aku jatuh cinta padanya…. Aku ingin melewati hari-hari indah bersamanya…. Dalam suka maupun duka”

Saudaraku terkasih,
Jika Anda menemukan bahwa "bus" tidak sesuai, Anda hanya menekan tombol merah dan turun bus! :)

Tapi tunggu ... ... .. Saya yakin Anda memiliki pengalaman sebelumnya.
Anda melihat bus datang (bus yang Anda inginkan tentu saja).

Anda melambaikan tangan untuk menyetopnya, tetapi sopir bus terus melaju dengan berpura-pura tidak melihat Anda. Bila Anda sebagai pejuang unggul, Anda tak menyerah, Anda mengejarnya. Dan…. Anda berhasil mendapatkannya.

Tetapi kalau Anda mengabaikannya, maka Anda akan terus menunggu dan menunggu…

Ayolah….., jangan biarkan waktu Anda terbuang percuma untuk penantian yang sia-sia.

Anda harus berusaha untuk meraih cinta sejati itu….
Mungkin banyak kekurangan pasangan Anda disana-sini, karena memang tak ada yang sempurna dalam kehidupan ini. Tetapi kekurangan bisa ditutupi dengan kelebihan yang sama sekali tidak terpikirkan, yang kadang membuat Anda terkagum-kagum… :D

Dan pada dasarnya, cinta sejati itu saling melengkapi dan selalu berupaya untuk memberikan kebahagiaan bagi orang yang dikasihinya.

Selamat menikmati cinta kasih bersama pujaan hati.
-----------

(Yohanes 3:16) Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

LORD JESUS bless you and me, now and forever. Amen.

Sumber: Renungan Malam Lisa

Segelas Susu untuk Mama Papa

“Aduh…. Mira, kamu ini benar-benar nakal sekali… Coba kamu lihat dapur yang baru mama bersihkan jadi sangat kotor sekali….. Coba ini lihat…., susu berceceran dimeja dan lantai, gelas pecah, air berserakan di lantai… “ omel Santi pada Mira, putri kecilnya yang berusia enam tahun.

“Tapi mama……, Mira….” sahut Mira dengan wajah tertunduk ketakutan, tubuh kecilnya bergetar, jari jemarinya dengan gelisah meremas-remas ujung bajunya. Wajah mungilnya nampak terluka. Mira berusaha menahan titik air mata yang sudah siap berhamburan. ‘Oh… aku tak boleh menangis, mama pasti akan lebih marah…. Karena mama tak suka anak cengeng… dan aku bukan anak cengeng’

“Mama kan sudah bilang, kalau mau membuat susu, bilang mama… atau bik Minah, biar mama atau bik Minah yang membuatnya. Coba lihat sekarang, semua jadi kotor dan berantakan…” omel Santi berkepanjangan, tanpa mau mendengar penjelasan gadis kecilnya.

“Sana kamu masuk kamar…. !” sambung Santi lagi dengan kesal.

Uh…. Tubuhnya masih terasa penat sepulang kerja, dan ia baru saja menyiapkan untuk makan malam keluarga. Dirinya, suaminya Hendra yang sebentar lagi pulang kerja dan putri kecil mereka Mira.

Inilah risiko seorang isteri dan mama yang bekerja untuk menopang kehidupan rumah tangga keluarga. Pulang kerja harus larut pula dalam kesibukan dapur. Memang sih ada bik Minah, tapi untuk urusan makan malam,

Santi selalu berusaha untuk menyiapkan sendiri makan malam keluarga mereka. Dan insiden kecil, gelas pecah dengan susu dan air yang bertebaran dimeja dan lantai…. Membuat suasana hatinya jadi kesal…

Ada rasa bersalah juga sewaktu melihat putri kecilnya yang dengan langkah pelanberingsut pergi ke kamarnya, dan dia semakin merasa salah karena tak memberi kesempatan pada Mira untuk memberikan alasan. Namun kemudian Santi berusaha menghilangkan rasa bersalahnya itu dengan menyibukkan diri menyiapkan makan malam di meja makan, dan minta bik Minah membersihkan dapur.

Hendra tak lama kemudian pulang dari tempat kerjanya. Setelah mandi dan mereka siap di meja makan untuk menikmati makan malam. Hendra baru menyadari kalau ada sesuatu yang hilang dari kebersamaan mereka.

“Mana Mira putri papa yang cantik….? Dari tadi papa tak ada melihatnya….?” Tanya Hendra pada Santi.

“Ya… ampun, tentu Mira masih dikamarnya….” Sahut Santi dengan kaget. Kemudian dengan singkat Santi menjelaskan pada Hendra bahwa tadi ia memarahi Mira karena membuat sedikit kekacauan di dapur.

“Tunggu ya pa…., biar mama susul dulu Mira… Tentu dia masih takut dan sedih…” sahut Santi sambil beranjak menuju ke kamar Mira.

“Mira sayang…. Ini mama nak….” Panggil Santi pelan sambil mengetuk pintu kamar Mira dan kemudian beranjak masuk kamar putrinya.

Mira nampak duduk di atas tempat tidurnya sambil memeluk kedua lututnya. Wajahnya muram dan air matanya berlinangan. Tubuh kecilnya nampak begitu rapuh dan bergetar karena menahan tangis yang siap meledak.

Hati Santi pilu melihat keadaan putrinya itu, dan rasa salah yang sejak tadi telah tersimpan dihatinya semakin menderanya. Dengan mengulurkan kedua tangannya Santi berkata, “oh… Mira anakku, sini sayangku… peluk mama….”. Santi tak kuat menahan jatuhnya air mata ketika memeluk tubuh kecil putrinya, begitu lembut…., halus… dan harum….

Mira juga memeluk tubuh Santi, dan air mata bercucuran di mata bulat indahnya. Santi menghapus lembut air mata putrinya, dan merapikan poni Mira dan rambut Mira dengan kedua tangannya.

“Mama…, tadi Mira ingin membuatkan susu untuk mama dan papa….. Mira tahu mama dan papa pasti capek setelah bekerja. Karena bila papa mama minum susu yang Mira buat, pasti capek mama dan papa akan hilang. Tapi…. Gelasnya jatuh waktu Mira mengisinya dengan air panas… jadi…. dapurnya jadi kotor deh…” Kata Mira sambil menatap mamanya dengan wajah memelas.

Santi merasa tubuhnya membeku mendengar penjelasan putrinya. Ada perasaan sakit menyelinap dihatinya, bukan hanya perasaan bersalah karena marah dan tak memberi kesempatan putrinya membela diri tadi, tapi lebih dari itu….

Sakit dan tertekan didadanya karena telah berprasangka buruk, padahal putrinya Mira telah bermaksud baik untuk menyenangkannya dan Hendra suaminya.

Santi semakin mendekap erat tubuh Mira, dan dengan kasih sayang menciumi wajah putrinya.

“Mama…, maafkan Mira ya… Mira janji lain kali kalau membuat susu untuk mama dan papa akan berhati-hati biar gelasnya tidak pecah dan dapurnya tidak kotor lagi….” Kata Mira memohon sambil menatap wajah Santi dengan harap cemas.

“Oh… sayangku, mama maafkan….. mama maafkan…..” sahut Santi sambil menciumi wajah mungil putrinya. Sungguh…., dia tak perduli mau berapa banyak gelas yang pecah karena upaya putrinya membuat susu untuknya dan Hendra, dan mau berantakan dan kotor bagaimanapun dapur karena upaya putrinya menyenangkan ia dan Hendra, Santi benar-benar tak perduli….

Yang ia tahu hanyalah ada rasa nyaman dan terharu yang menjalari keseluruhan tubuhnya yang sampai membuatnya menggigil dan ingin menjerit meluapkan sukacita dan sekaligus sedihnya….

Sedih karena ia telah berprasangka buruk pada putrinya. Dan bahagia karena untuk anak sekecil Mira, telah tertanam upaya kasih untuk membuatnya dan suaminya bahagia. ‘Oh…. Putri kecilku yang manis dan baik hati…..’

“Sayang…. Maafkan mama juga ya, karena tadi telah marah pada Mira….” Pinta Santi sambil menciumi kedua jemari putrinya.

“Mama…. Tidak perlu minta maaf pada Mira, karena memang Mira kok yang salah karena tidak hati-hati. Mama jangan menangis ya….., Mira sayang sekali pada mama dan papa….” Mira mengusap air mata Santi dengan pelan.

“Hai…. Hai…. Ada apa ini kekasih-kekasih papa malah peluk-pelukan sambil menangis….. Ayo… kita makan…., papa sudah lapar sekali nich….” Hendra tiba-tiba muncul dengan raut wajah cerah.

Dia tahu dan mendengar semua percakapan putri dan isterinya, dan itu semua membuatnya dipenuhi rasa sukacita dan bahagia. ‘Ah…. Keluarga kecilku yang selalu membuatku rindu dan ingin selalu disisi mereka. Tuhan, terimakasih untuk kebahagiaan yang Kau berikan untuk keluarga kami.’
---------

(Yakobus 1:19) Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;

Understand, my beloved brethren. Let every man be quick to, slow to speak, slow to take offense and to get angry.

LORD JESUS bless you and me, now and forever. Amen.

Depok, 30 Januari 2011 10.07 pm
Renungan Malam Lisa.

Surat dari Surga :)

Kepada Yth:
Allah
di Surga

Dengan Hormat…

Tuhan, aku ingin tahu…
Mengapa Kau ijinkan hal-hal yang tidak adil terjadi di dunia ini?
Mengapa aku harus memberikan pipi yang kanan jika ditampar pipi yang kiri ?
Mengapa aku harus mencintai musuhku ?
Mengapa sepertinya aku harus selalu mengalah walau dirugikan ?
Mengapa aku harus bersabar atas banyak hal yang tidak menyenangkan ?Tolong Tuhan, jawab aku biar aku mengerti, karena aku merasa sangat lelah menganggung semua ini.

Reply from Heaven :

AnakKu terkasih,
tidakkah kau sadari bahwa mataKu selalu tertuju padamu ?
Aku tahu saat kau diperlakukan tidak adil. Aku melihat saat air matamu mengalir menahan perasaan jengkel yang tak terucapkan. Aku bahkan ikut merasakan kepedihan hatimu saat kau dikecewakan.
Tapi tahukah kau bahwa Aku semakin mengasihimu saat Aku melihat kau memaafkan orang lain yang menyakitimu dan bukannya membalas keburukan mereka ? Dan melihatmu bersabar atas sikap jahat yang mereka tujukan padamu membuatKu sangat marah.
Aku ijinkan semua itu terjadi supaya kau terlatih makin hari makin sempurna dan menyerupai Aku.
Tapi, pada saatnya Aku akan menggantikan semuanya dan memberkatimu sesuai kemuliaan dan kekayaanKu.
Aku akan membukakan bagimu pintu-pintu berkat di mana tak ada seorangpun bisa menutupnya. Dan Aku akan memberikan padamu kesempatan-kesempatan emas di mana tak seorang pun bisa mengambilnya.
Dan Aku telah melihat betapa jahatnya perbuatan mereka, dan akan membuat perhitungan dengan mereka yang tak dapat kau bayangkan.
Jadi, anakku janganlah kau berpikir bahwa Aku mengabaikanmu, karena sesungguhnya mataKu ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik.

Love,
Tuhanmu

Indah Pada Waktunya :) I

Minto berlari kecil ditengah kucuran hujan yang telah mulai menderas untuk mencari tempat berteduh.

Matanya terhenti pada seorang anak lelaki kecil berumur 11 tahunan yang yang tengah menggendong bocah perempuan empat tahunan.

Mereka berdua berselimutkan jas hujan kumal. Dan anak lelaki kecil itu dengan antusiasnya tengah menawarkan jasa sewa payung pada orang yang berlalu lalang menghindari kucuran hujan yang semakin menderas.

“Tuan… nyonya…. Payung…… payung…” katanya sambil mengangsurkan payung berukuran besar yang telah memudar warnanya.

Payung itu bergerak-gerak kencang ditiup angin dan terpaan air hujan. Uff… bahkan terlihat anak lelaki dan adik perempuan digendongannya itu terhuyung-huyung mempertahankan payungnya agar tidak diterbangkan angin dan hujan.

“Bah…. Keterlaluan sekali….! Orang tua mana pula yang sampai hati membiarkan anak-anaknya ini, berhujan-hujanan menyewakan payung mereka, untuk mendapatkan jasa Rp 1.000,-…?” Minto menggerutu dalam hati. Ia demikian iba dan kasihan dengan perjuangan dua anak kecil itu.

Tiba-tiba saja ia ingat dengan Nani, istrinya yang tengah hamil tua, anak pertama buah cinta mereka. “Sungguh…. Aku tak akan pernah membiarkan anakku terperangkap dalam hujan seperti ini, apalagi untuk mencari nafkah atau sekedar uang jajan dengan menyewakan payung…” Janji Minto dalam hati kecilnya.

“Sini nak, saya pinjam payungnya ya…. Dan kalian berdua, sini bergabung dengan saya, kasihan adikmu… lihat dia sudah menggigil kedinginan….” Sahut Minto sambil merangkul pundak anak lelaki itu.

Mereka bertiga berdesakan dibawah naungan payung yang bergoncang keras karena angin dan hujan, berjalan pelan-pelan menuju bangunan ruko dimana disana juga nampak banyak orang berteduh.

Minto mengibas-ngibaskan air hujan yang membasahi rambut dan tubuhnya, demikian juga dengan anak lelaki dan adik perempuannya itu. Tubuh kedua anak kecil itu nampak bergetar karena kedinginan. Minto sangat terharu ketika ketika melihat anak lelaki itu mengusap wajah dan rambut adiknya yang basah. Matanya begitu penuh kasih sayang, dan adik perempuannya dengan mata bulatnya menatap juga kakak lelakinya dengan sayang.

“Kak Rudi, Chika lapar…..” ratap adiknya dengan suara pelan.
“Sabar dik ya… sebentar kakak belikan gorengan…” sahut sang kakak sambil mengeluarkan uang recehan lima ratus yang basah kuyup, dan mengangsurkan uang itu pada seorang penjual gorengan yang sama-sama berteduh.
Ia mendapatkan sebuah bakwan goreng dan terus mengangsurkan pada adiknya yang langsung melahap bakwan itu.

Tiba-tiba saja Minto diliputi rasa haru yang membuat perutnya menjadi mual, ia digerakkan sesuatu yang sangat mendesak untuk mengajak kedua anak kecil yang sedang kelaparan itu untuk masuk kesebuah warteg dan memesan makanan.

“Nak… kalian pasti lapar ya….” Kata Minto dengan tatap iba. Sang kakak hanya terdiam mengelus-ngelus rambut adiknya, sementara sang adik terus melahap bakwan gorengnya.

“Yuk… kita makan di warteg itu. Jangan takut, om yang akan traktir….” Ajak Minto setelah melihat keraguan di wajah anak lelaki kecil itu.

“Nak… orang tua kalian tahu kalau kalian ngojek payung…?” Tanya Minto setelah mereka selesai menyantap makanan dan minuman.

“Tidak om…. Mama saya sedang bekerja jadi tukang cuci di rumah-rumah tetangga…” sahut anak lelaki itu dengan suara pelan dan wajah tertunduk.

“Terus ayahmu….”

“Papa saya sedang tidur nyenyak waktu kami berdua pergi ngojek payung…..”

“Tidur…..???” tanya Minto dengan terkejut.

“Ya om…. Papa baru menjelang subuh pulang ke rumah dalam keadaan mabuk…..”

“Ayah kalian pemabuk….” tanya Minto dengan kaget.

“Ya om, papa jadi pemabuk sejak kena PHK…. Sekarang papa kerjanya jadi kuli serabutan, kadang ada uang kadang tidak dapat uang. Sekarang papa suka marah-marah, sama mama…., sama saya dan juga adik Chika. Padahal dulu sewaktu papa kerja di pabrik, papa tidak begitu om. Papa sangat baik hati, papa sangat sayang mama, saya dan dik Chika…

Kami semua sedih om…, terutama mama. Saya dan Chika juga takut om, apalagi kalau papa sedang mabuk. Mulutnya dan badannya bau, kadang-kadang om… papa muntahnya dimana-mana. Dan suka jahat sama kami. Papa juga suka mukulin mama kalau mama menasihati papa agar jangan mabuk dan berteman dengan teman-teman yang tidak baik, dan mengajak papa untuk berdoa bersama-sama minta Tuhan Yesus menolong papa dan memberikan pekerjaan lagi untuk papa. Papa marah dan mengamuk..

Papa bilang, “mengapa harus berdoa segala, tidak ada gunanya, karena Tuhan itu tidak perduli dengan kehidupan kita… Kita akan terus melarat seperti ini”.

Tapi mama selalu bilang pada saya dan dik Chika, bahwa Tuhan Yesus itu sayang pada kami semua. Mama selalu bilang agar kami tidak putus asa untuk selalu berdoa, agar papa segera baik lagi. Kami selalu berdoa agar papa yang sedang sakit segera sembuh, tidak suka mabuk lagi, dan kembali sayang kami.
Mama juga bilang, agar saya belajar di sekolah dengan baik, biar bisa jadi orang pintar, bisa kerja di kantoran dan bekerja untuk dapat penghasilan yang baik. Mama selalu bilang, bahwa Tuhan Yesus pasti akan bantu kalau kami tidak menyerah dan berusaha dengan kuat bekerja. Karena Tuhan itu kaya, dan selalu sayang pada anak-anak-Nya.

Saya percaya kok om…., doa kami pasti akan didengar Tuhan Yesus. Karena Tuhan Yesus itu telinganya besar sekali, Tuhan Yesus mendengar setiap doa-doa kami.”

Minto menelan ludah dengan rasa tercekik dilehernya “Apa yang kamu doakan untuk papa dan mamamu, dan juga adikmu Chika…?”

Minto melihat tatap mata cemerlang penuh semangat dari anak lelaki kecil dihadapannya, dan ia merasakan energy luar biasa mengalir juga kedirinya,

“Saya berdoa minta kepada Tuhan Yesus, papa saya segera sembuh dari penyakitnya yang suka mabuk, dan papa dapat kerjaan baru, dan papa juga bisa kembali jadi papa kami yang baik hati dan menyayangi kami.

Saya berdoa untuk mama saya yang baik hati, agar mama saya diberi kekuatan oleh Tuhan Yesus agar selalu tabah dan panjang umurnya, karena mama selalu bilang, Tuhan Yesus menjanjikan semua yang kami alami indah pada waktunya, kalau kami semua sabar dan setia pada Tuhan.

Saya juga berdoa agar Chika juga selalu sehat dan bisa sekolah seperti saya, jadi anak pintar disekolah.”

“Kamu anak pintar disekolah…?” tanya Minto dengan rasa tergelitik.

“Ya om, saya rangking satu disekolah…. Dan saya dapat bea siswa dari yayasan di Gereja kami…”

Minto merasakan dirinya semakin terpukul dengan kesaksian anak kecil ini, yang penuh semangat dan tak pernah menyerah dengan kepahitan hidup yang tengah dialaminya.

“Nak… kamu segera pulang kerumah ya… sudah jangan mengojek lagi, kasihan adikmu, lihat ia sudah mengantuk dan juga kedinginan…” kata Minto sambil menyerahkan uang dua puluh ribu rupiah.

“Ambillah semua untukmu. Pesan saya, teruslah berdoa dan belajar dengan giat. Percayalah, seperti yang mama kamu katakan. Semuanya akan indah pada waktunya, asalkan kamu sabar dan setia. Terimakasih untuk kesaksianmu. Ini sangat memberkati saya….” Sahut MInto ketika melihat anak lelaki kecil itu merogoh kantongnya untuk mengembalikan kelebihan uang sewa payungnya.

Jujur saja, memang Minto sangat diberkati dengan kesaksian anak lelaki kecil itu. Ia ingat Nani istrinya yang sedang hamil tua. Tinggal menunggu saat-saat kelahiran anak buah cinta kasih mereka.

Ia dan Nani hidup dalam kesederhanaan, bahkan dalam keadaan yang pas-pasan. Sebagai pasangan keluarga muda yang memulai kehidupan keluarga dengan modal nekad karena cinta kasih diantara mereka yang telah begitu meronai hidup mereka.

Ia dan Nani sama-sama bekerja keras untuk menghidupi rumah tangga mereka, sehingga dengan perjuangan dan kemauan untuk berhemat, mereka bisa memiliki rumah sederhana, walau untuk itu mereka mencicil. Hidup terasa semakin berat, karena persiapan untuk kelahiran bayi dan kebutuhan lainnya dan juga orang tua yang sakit-sakitan.

Mulanya semua mereka hadapi dengan penuh syukur dan berdoa pada Tuhan Yesus untuk kekuatan dan pengharapan, bahwa semaunya akan menjadi lebih baik. Tetapi tuntutan ekonomi yang semakin mendesak memaksa juga ia, sebagai kepala rumah tangga mencari tambahan dengan bisnis kecil-kecilan bersama teman-temannya.

Dan Minto merasakan memang perubahan dalam penghasilan yang mulai semakin membaik setelah ia berbisnis dengan teman-temanya. Hanya saja waktu yang tersita juga cukup banyak.
Kini ia jarang berbicara dengan Nani dengan santai, karena bila pagi mereka terburu-buru bekerja dikantor, pulang kerja ia sudah lelah karena sudah larut baru tiba di rumah. Kebiasaan yang juga dirasakan Minto jelek, adalah kebiasaan barunya yang suka minum-minuman keras.

Nani suka menasihati ia akan kebiasaan buruk yang juga disadarinya sangat jelek itu, tetapi ia selalu mengelak dengan mengatakan bahwa minum-minum itu hanya untuk pergaulan. Tapi Minto merasakan jeratan minuman memabukkan itu sudah mengubahnya menjadi orang yang bertemperamental kasar, pemarah dan mudah tersinggung. Beda sekali dengan dirinya dulu yang sabar dan lembut.

Melihat keberadaan anak lelaki tadi, membuat hati Minto menangis “Tuhan Yesus…, ampuni aku, aku tidak mau anakku yang akan lahir nanti menderita seperti anak lelaki tadi. Tuhan Yesus, tolong aku untuk berubah… untuk menjadi ayah yang baik bagi anakku… untuk jadi suami yang baik bagi Nani.

Oh…. Nani…. maafkan kesalahanku, maafkan kekhilafanku….” Minto sungguh-sungguh tak mampu menahankan kedukaan dan penyesalan yang dirasakannya, perasaan itu begitu menusuk hatinya yang terdalam. Airmata mengucur deras dimatanya. Tubuhnya berguncang menahan tangis itu keluar sebagai raungan yang mungkin bisa melegakan hatinya.

Tuhan Yesus, saya tahu tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang indah dan baru…. Tolong saya Tuhan Yesus untuk jadi seorang kepala rumah tangga yang bertanggung jawab kepada isteri saya Nani dan calon anak kami yang sebentar lagi lahir. Saya percaya Tuhan Yesus pasti akan menolong saya. Amin.

Hujan telah reda. Dengan langkah bergegas Minto pulang kerumahnya. Ia sudah tidak sabar ingin memeluk isterinya Nani, dan mencium anak dikandungan isterinya.
---------

Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! (Roma 12:12)

Rejoice and exult in hope; be steadfast and patient in suffering and tribulation; be constant in prayer.

LORD JESUS bless you and me, now and forever. Amen.

Renungan Harian Lisa Fransisca
Depok, 19 Februari 2011

Rabu, 23 Februari 2011

TUHAN Punya Rencana

Suatu hari ada seorang pelukis terkenal sedang menyelesaikan lukisannya dan lukisan ini adalah lukisan yang sangat bagus. Sang pelukis ketika menyelesaikan lukisannya sangat senang dan memandangi lukisan yang berukuran 2×8 m itu. Sambil memandanginya pelukis tersebut berjalan mundur dan ketika berjalan mundur pelukis tersebut tidak melihat ke belakang. Dia terus berjalan mundur dan di belakang adalah ujung dari gedung tersebut yang tinggi sekali dan tinggal satu langkah lagi dia akan mengakhiri hidupnya.

Salah seorang melihat pelukis tersebut dan hendak berteriak untuk memperingatkan pelukis tersebu, tetapi tidak jadi karena dia berpikir sekali dia berteriak pelukis tersebut malah bisa jatuh. Kemudian orang yang melihat pelukis tersebut mengambil kuas dan cat yang ada di depan lukisan tersebut lalu mencoret-coret lukisan tersebut sampai rusak.

Pelukis tersebut sangatlah marah dan maju hendak memukul orang tersebut. Namun, beberapa orang yang ada di situ menghadang dan memperlihatkan posisi pelukis tadi yang nyaris jatuh.

Kadang-kadang kita telah melukiskan masa depan kita dengan sangat bagus atau bahkan memimpikan suatu hari yang indah bersama dengan pasangan yang kita idamkan. Namun, lukisan itu kelihatannya dirusak oleh Tuhan, karena Tuhan melihat bahaya yang ada pada kita jika kita terus melangkah. Kadang-kadang kita marah dan jengkel terhadap Tuhan atau juga terhadap pemimpin kita. Namun, perlu kita ketahui Tuhan selalu menyediakan yang terbaik.

Rabu, 08 Desember 2010

HADIAH NATAL TERINDAH

Nasib Egar tidak sebaik hatinya. Dengan pendidikannya yang rendah, pria berumur sekitar 30 tahun itu hanya seorang pekerja bangunan yang miskin. Dan bagi seseorang yang hanya berjuang hidup untuk melewati hari demi hari, Natal tidak banyak berbeda dengan hari-hari lainnya, karenanya apa yang terjadi pada suatu malam natal itu tidak banyak yang diingatnya.

Malam itu di seluruh negeri berlangsung kemeriahan suasana natal. Setiap orang mempersiapkan diri menghadapi makan malam yang berlimpah. Tapi di kantong Egar hanya terdapat $10, jumlah yang pas-pasan untuk makan malamnya dan tiket bis ke Baldwin, dimana dia mungkin mendapatkan pekerjaan untuk ongkos hidupnya selama beberapa berikutnya.

Maka menjelang malam, ketika lonceng dan lagu-lagu natal terdengar dimana-mana, dan senyum dan salam natal diucapkan tiap menit, Egar menaikkan kerah bajunya dan menunggu kedatangan bis pukul 20:00 yang akan membawanya ke Baldwin.

Salju turun deras. Suhu jatuh pada tingkat yang menyakitkan dan perut Egar mulai berbunyi karena lapar. Ia melihat jam di stasiun, dan memutuskan untuk membeli hamburger dan kentang goreng ukuran ekstra, karena ia butuh banyak energi untuk memindahkan salju sepanjang malam nanti.

"Lagipula," pikirnya, "sekarang adalah malam natal, setiap orang, bahkan orang seperti saya sekalipun, harus makan sedikit lebih special dari biasanya."

Di tengah jalan ia melewati sebuah bangunan raksasa, dimana sebuah pesta mewah sedang berlangsung. Ia mengintip ke dalam jendela. Ternyata itu adalah pesta kanak-kanak. Ratusan murid taman kanak-kanak dengan baju berwarna-warni bermain-main dengan begitu riang.

Orang tua mereka saling mengobrol satu sama lain, tertawa keras dan saling olok. Sebuah pohon terang raksasa terletak di tengah-tengah ruangan, kerlap-kerlip lampunya memancar keluar jendela dan mencapai puluhan mobil-mobil mewah di pekarangan. Di bawah pohon terang terletak ratusan hadiah-hadiah natal dalam bungkus berwarna-warni. Di atas beberapa meja raksasa tersusun puluhan piring-piring yang berisi bermacam-macam makanan dan minuman, menyebabkan perut Egar berbunyi semakin keras.

Dan ia mendengar bunyi perut kosong di sebelahnya. Ia menoleh, dan melihat seorang gadis kecil, berjaket tipis, dan melihat ke dalam ruangan dengan penuh perhatian. Umurnya sekitar 10 tahun. Ia tampak kotor dan tangannya gemetar. "ya ampun, nona kecil", Egar bertanya dengan pandangan tidak percaya, "udara begitu dingin. Dimana orangtuamu?"

Gadis itu tidak bicara apa-apa. Ia hanya melirik Egar sesaat, kemudian memperhatikan kembali anak-anak kecil di dalam ruangan, yang kini bertepuk tangan dengan riuh karena Sinterklas masuk ke dalam ruangan.

"Sayang..., kau tidak bisa di dalam sana" Egar menarik napas. Ia merasa begitu kasihan pada gadis itu. Keduanya kembali memperhatikan pesta dengan diam-diam. Sinterklas sekarang membagi-bagikan hadiah pada anak-anak, dan mereka meloncat ke sana-sini, memamerkan hadiah-hadiah kepada orang tua mereka yang terus tertawa.

Mata gadis itu bersinar. Jelas ia membayangkan memegang salah satu hadiah itu, dan imajinasi itu cukup menimbulkan secercah sinar di matanya. Pada saat yang bersamaan Egar bisa mendengar bunyi perutnya lagi. Egar tidak bisa lagi menahan hatinya.

Ia memegang tangan gadis itu dan berkata "Mari, akan saya belikan sebuah hadiah untukmu." "Sungguh?", gadis itu bertanya dengan nada tidak percaya. "Ya. Tapi kita akan mengisi perut dulu."

Ia membawa gadis itu di atas bahunya dan berjalan ke sebuah depot kecil. Tanpa berpikir tentang tiket bisnya ia membeli 2 buah roti sandwich, 2 bungkus kentang goreng dan 2 gelas susu coklat. Sambil makan ia mencari tahu tentang gadis itu.

Namanya Ellis dan ia baru kembali dari sebuah toko minuman dimana ibunya bekerja paruh waktu sebagai kasir. Dia sedang dalam perjalanan pulang ke rumah anak yatim St.Carolus, sebuah sekolah kecil yang dibiayai pemerintah untuk anak-anak miskin. Ibunya baru memberinya sepotong roti tawar untuk makan malamnya. Egar menyuruh gadis itu untuk menyimpan rotinya untuk besok.

Sementara mereka bercakap-cakap, Egar terus berpikir tentang hadiah apa yang bisa didapatnya untuk Ellis. Ia kini hanya punya sekitar $5 di kantongnya. Ia mengenal sopir bis, dan ia yakin sopir itu akan setuju bila ia membayar bisnya kali berikutnya. Tapi tidak banyak toko-toko yang buka di saat ini, dan yang buka pun umumnya menaikkan harga-harga mereka. Ia amat ragu-ragu apakah ia bisa membeli sesuatu seharga $5.

Apapun yang terjadi, katanya pada dirinya sendiri, saya akan memberi gadis ini hadiah, walaupun itu kalung saya sendiri. Kalung yang melingkari lehernya adalah milik terakhirnya yang paling berharga. Kalung itu adalah 24 karat murni, sepanjang kurang lebih 30 cm, seharga ratusan dollar. Ibunya memberinya kalung itu beberapa saat sebelum kematiannya.

Mereka mengunjungi beberapa toko tapi tak satupun yang punya sesuatu seharga $5. Tepat ketika mereka mulai putus asa, mereka melihat sebuah toko kecil yang agak gelap di ujung jalan, dengan tanda ‘BUKA’ di atas pintu. Bergegas mereka masuk ke dalam. Pemilik toko tersenyum melihat kedatangan mereka, dan dengan ramah mempersilakan mereka melihat-lihat, tanpa peduli akan baju-baju mereka yang lusuh. Mereka mulai melihat barang-barang di balik kaca dan mencari-cari sesuatu yang mereka sendiri belum tahu.

Mata Ellis bersinar melihat deretan boneka beruang, deretan kotak pensil, dan semua barang-barang kecil yang tidak pernah dimilikinya. Dan di rak paling ujung, hampir tertutup oleh buku cerita, mereka melihat seuntai kalung. Kening Egar berkerut. Apakah itu kebetulan, atau natal selalu menghadirkan keajaiban, kalung bersinar itu tampak begitu persis sama dengan kalung Egar.

Dengan suara takut-takut Egar meminta melihat kalung itu. Pemilik toko, seorang pria tua dengan cahaya terang di matanya dan jenggot yang lebih memutih, mengeluarkan kalung itu dengan tersenyum. Tangan Egar gemetar ketika ia melepaskan kalungnya sendiri untuk dibandingkan pada kalung itu.

"Ya Tuhan", Egar menggumam, "begitu sama dan serupa." Kedua kalung itu sama panjangnya, sama mode rantainya, dan sama bentuk salib yang tertera diatas bandulnya. Bahkan beratnya pun hampir sama. Hanya kalung kedua itu jelas kalung imitasi. Dibalik bandulnya tercetak: ‘Imitasi : Tembaga’. "Samakah mereka?" Ellis bertanya dengan nada kekanak-kanakan. Baginya kalung itu begitu indah sehingga ia tidak berani menyentuhnya. Sesungguhnya itu akan menjadi hadiah natal yang paling sempurna, kalau saja……kalau saja…….

“Berapa harganya, Pak?” tanya Egar dengan suara serak karena lidahnya kering. “Sepuluh dollar.” kata pemilik toko. Hilang sudah harapan mereka. Perlahan ia mengembalikan kalung itu. Pemilik toko melihat kedua orang itu berganti-ganti, dan ia melihat Ellis yang tidak pernah melepaskan matanya dari kalung itu. Senyumnya timbul, dan ia bertanya lembut, “Berapa yang anda punya, Pak ?”

Egar menggelengkan kepalanya, “Bahkan tidak sampai $5.” Senyum pemilik toko semakin mengembang “Kalung itu milik kalian dengan harga $4.” Baik Egar maupun Ellis memandang orang tua itu dengan pandangan tidak percaya. “Bukankah sekarang hari Natal?” Orang tua itu tersenyum lagi, “Bahkan bila kalian berkenan, saya bisa mencetak pesan apapun dibalik bandul itu. Banyak pembeli saya yang ingin begitu. Tentu saja untuk kalian juga gratis.” “Benar-benar semangat natal.” Pikir Egar dalam hati.

Selama 5 menit orang tua itu mencetak pesan berikut di balik bandul : 'Selamat Natal, Ellis Salam Sayang, Sinterklas' Ketika semuanya beres, Egar merasa bahwa ia memegang hadiah natal yang paling sempurna seumur hidupnya. Dengan tersenyum Egar menyerahkan $4 pada orang tua itu dan mengalungkan kalung itu ke leher Ellis. Ellis hampir menangis karena bahagia.

“Terima kasih. Tuhan memberkati anda, Pak. Selamat Natal.” kata Egar kepada orang tua itu. “Selamat natal teman-temanku.” Jawab pemilik toko, senantiasa tersenyum.

Mereka berdua keluar dari toko dengan bahagia. Salju turun lebih deras tapi mereka merasakan kehangatan di dalam tubuh. Bintang-bintang mulai muncul di langit, dan sinar-sinar mereka membuat salju di jalan raya kebiru-biruan.

Egar mengendong gadis itu di atas bahunya dan meloncat dari satu langkah ke langkah yang lain. Ia belum pernah merasa begitu puas dalam hidupnya. Melihat tawa riang gadis itu, ia merasa telah mendapat hadiah natal yang paling memuaskan untuk dirinya sendiri. Ellis, dengan perut kenyang dan hadiah yang berharga di lehernya, merasakan kegembiraan natal yang pertama dalam hidupnya.

Mereka bermain dan tertawa selama setengah jam, sebelum Egar melihat jam di atas gereja dan memutuskan bahwa ia harus pergi ke stasiun bis. Karena itu ia membawa gadis itu ketempat dimana ia menemukannya. “Sekarang pulanglah, Ellis. Hati-hati di jalan. Tuhan memberkatimu selalu.” “Kemana anda pergi, Pak?” tanya Ellis pada orang asing yg baik hati itu. “Saya harus pergi bekerja. Ingat sedapat mungkin bersekolahlah yang rajin. Selamat natal, sayang.”

Ia mencium kening gadis itu, dan berdiri. Ellis mengucapkan terima kasih dengan suaranya yang kecil, tersenyum dan berlari-lari kecil ke asramanya. Kebahagiaan yang amat sangat membuat gadis kecil itu lupa menanyakan nama teman barunya. Egar merasa begitu hangat di dalam hatinya. Ia tertawa puas, dan berjalan menuju ke stasiun bis. Pengemudi bis mengenalnya, dan sebelum Egar punya kesempatan untuk bicara apapun, ia menunjuk salah satu bangku yg masih kosong.

“Duduk di kursi kesukaanmu, saudaraku, dan jangan cemaskan apapun. Sekarang malam natal.” Egar mengucapkan terima kasih, dan setelah saling menukar salam natal ia duduk di kursi kesukaannya. Bis bergerak, dan Egar membelai kalung yang ada di dalam kantongnya. Ia tidak pernah mengenakan kalung itu di lehernya, tapi ia punya kebiasaan untuk mengelus kalung itu setiap saat.

Dan kini ia merasakan perbedaan dalam rabaannya. Keningnya berkerut ketika ia mengeluarkan kalung itu dari kantongnya, dan membaca sebuah kalimat yang baru diukir dibalik bandulnya : 'Selamat Natal, Ellis Salam Sayang, Sinterklas' . Saat itu ia baru sadar bahwa ia telah keliru memberikan hadiah untuk Ellis……

Selama 12 tahun berikutnya hidup memperlakukan Egar dengan amat keras. Dalam usahanya mencari pekerjaan yang lebih baik, ia harus terus menerus berpindah dari satu kota ke kota lainnya. Akhirnya ia bekerja sebagai pekerja bangunan di Marengo, sekitar 1000 km dari kampung halamannya. Dan ia masih belum bisa menemukan pekerjaan yang cukup baik untuk makan lebih dari sekedar makanan kecil atau kentang goreng.

Karena bekerja terlalu keras di bawah matahari dan hujan salju, kesehatannya menurun drastis. Bahkan sebelum umurnya mencapai 45 tahun, ia sudah tampak begitu tua dan kurus. Suatu hari menjelang natal, Egar digotong ke rumah sakit karena pingsan kecapaian. Hidup tampaknya akan berakhir untuk Egar. Tanpa uang sepeserpun di kantong dan sanak famili yg menjenguk, ia kini terbaring di kamar paling suram di rumah sakit milik pemerintah. Malam natal itu, ketika setiap orang di dunia menyanyikan lagu-lagu natal, denyut nadi Egar melemah, dan ia jatuh ke dalam alam tak sadar.

Direktur rumah sakit itu, yang menyempatkan diri menyalami pasien-pasiennya, sedang bersiap-siap untuk kembali ke pesta keluarganya ketika ia melihat pintu gudang terbuka sedikit. Ia memeriksa buku di tangannya dan mengerutkan keningnya. Ruang itu seharusnya kosong. Dia mengetuk pintu, tidak ada jawaban. Dia membuka pintu itu dan menyalakan lampu. Hal pertama yg dilihatnya adalah seorang tua kurus yang tergeletak di atas ranjang, di sebelah sapu-sapu dan kain lap.

Tapi perhatiannya tersedot pada sesuatu yang bersinar suram di dadanya, yang memantulkan sinar lampu yang menerobos masuk lewat pintu yang terbuka. Dia mendekat dan mulai melihat benda yang bersinar itu, yaitu bandul kalung yang sudah kehitam-hitaman karena kualitas logam yang tidak baik. Tapi sesuatu pada kalung itu membuat hatinya berdebar. Dengan hati-hati ia memeriksa bandul itu dan membaca kalimat yang tercetak di baliknya. 'Selamat Natal, Ellis Salam Sayang, Sinterklas'

Air mata turun di pipi Ellis. Inilah orang yang paling diharapkan untuk bertemu seumur hidupnya. Inilah orang yang membuat masa kanak-kanaknya begitu tak terlupakan hanya dengan 1 malam saja, dan inilah orang yang membuatnya percaya bahwa sesungguhnya Sinterklas memang ada di dunia ini.

Dia memeriksa denyut nadi Egar dan mengangguk. Tangannya yang terlatih memberitahu harapan masih ada. Ia memanggil kamar darurat, dan bergerak cepat ke kantornya. Malam natal yang sunyi itu dipecahkan dengan kesibukan mendadak dan bunyi detak langkah-langkah kaki puluhan perawat dan dokter jaga.

“Jangan kuatir, Pak…. Siapapun nama anda. Ellis disini sekarang, dan Ellis akan mengurus Sinterklasnya yang tersayang.” Dia menyentuh kalung di lehernya. Rantai emas itu bersinar begitu terang sehingga seisi ruangan terasa hangat walaupun salju mulai menderas diluar. Ia merasa begitu kuat, perasaan yang didapatnya tiap ia menyentuh kalung itu. Malam ini dia tidak harus bertanya-tanya lagi karena ia baru saja menemukan orang yang memberinya hadiah natal yang paling sempurna sepanjang segala jaman……….

LORD JESUS bless you and me, now and forever.